Hari Senin, 4 Desember 2006, si mobil tua ditrabrak truk gede dari belakang di tol Cikampek. Kejadiannya berikutnya sebenarnya agak memalukan tapi saya ceritain aja di sini, itung-itung berbagi pengalaman agar jangan sampai Anda mengalami kejadian serupa.
Kemarin seperti biasa saya berangkat ke Jakarta dari Bandung. Ketika berada di tol Cikampek sekitar jam 11.30an (km lupa, tapi sekitar km 50-60 an) saya lihat beberapa mobil di depan ada truk nyusul truk. Berhubung kecepatan truk relatif lambat, otomatis mobil-mobil di belakangnya termasuk mobil saya yang sedang berada di jalur kanan harus mengurangi kecepatan. Saya sempat berpikir untuk nyalip dari bahu jalan saja tapi gak jadi karena saya ingin coba patuh peraturan lalu lintas. So saya putuskan tetap di lajur kanan dan mengurangi kecepatan. Saya lihat juga di kaca spion, mobil sedan yang tadi nya di belakang saya sudah ngilang dan berganti dengan truk yang jaraknya cukup jauh. Setelah beberapa detik mengurangi kecepatan dan mulai tahan pedal gas pada kecepatan yang relatif lambat (untuk jalan tol kec 70km/jam kan lambat) tiba-tiba … BRUAKKK !!! Buset, mobil saya ditrabrak dari belakang, lihat ke spion, wah truk yang tadi tuh yang nabrak.
Langsung mobil saya pinggirkan ke bahu jalan untuk lihat seberapa parah kerusakannya. Si supir truk ternyata ngikutin saya juga trus berhenti di belakang saya. Saya lihat kaca lampu belakang kiri pecah, bemper fiberglass belakang juga pecah dan patah di sebelah pojok kiri, bagasi sebelah kiri amblas ke dalam (tertekan oleh ‘tanduk’ yang dipasang di depan truk), bemper lepas dari posisinya dan beberapa bagian lagi body mobil yang terdeformasi. Ancer-ancer kerusakan, harga lampu mobil 450rb, bemper fiberglass (info dari Mas Koko) gak ada di pasaran dan harus pesen dengan harga berjut-jut, ketok body, cat ulang sehingga kerusakan total mungkin minimal sekitar 2 juta.

Seperti biasa, supir truk bilang tidak mampu kalau harus mengganti semua. Dia bilang cuma punya 300rb. Kalau 300rb sih saya bilang buat beli lampu aja gak cukup, belum lagi kerusakan lainnya. Oleh karena itu saya tolak, kurang pisan atuh euy. Akhirnya setelah diskusi, si supir truk bilang akan coba pinjam ke saudaranya di Klender. Truk dibawa oleh kernet nya ke Ps Kramat Jati untuk nurunin angkutan dan si supir ikut saya ke Klender. Sesampai di Klender (cuma berhenti di jalan depan rumah saudaranya dan tidak sampe ke rumah saudaranya) dia bilang bahwa saudaranya sedang di Pasar Bulak, Klender. Supaya cepet, dia bilang kita susul aja ke pasar. Sepanjang jalan menuju rumah saudaranya dan waktu menuju pasar macetnya minta ampun karena habis turun hujan deras banget. Sepanjang jalan pula saya menilai bahwa si supir truk ini kayaknya orangnya bisa dipercaya. Buktinya dia mau berhenti dan bersedia membayar sebagian kecil kerusakan.
Ketika sampai di Ps Bulak, Klender, entah kenapa saya berpikir saya tidak perlu ikut dengannya menemui saudaranya di pasar. Saya pikir, orang ini bisa dipercaya dan saya juga ingin memeriksa dengan lebih detail lagi seberapa parah kerusakan mobil tua. Akhirnya dia pergi menemui saudaranya dan saya memeriksa kondisi mobil tua sambil telp sana-sini. Saya jujur saat itu pesimis supir truk berhasil pinjam duit ke saudaranya. Saya udah bersiap kalau memang gak ada duit ya saya terima aja 300rb yang dia tawarin tadi. Tapi tunggu punya tunggu, setengah jam berlalu, si supir truk kagak balik balik. Dalam hati mulai curiga nih. Empat puluh lima menit gak balik juga saya tambah curiga, naga-naganya gak beres nih. Saya telp hpnya (0815 55667631), nyambung tapi kemudian di-reject. Saya telp lagi, ternyata hp nya udah dimatiin. Sialan, ditipu gua! Bukan cuma ditipu, dikerjain pula lagi. Bayangin udah mobil rusak, saya nganter dia ke Klender dengan bermacet-macet sampai butuh 3 jam dari tol Cikampek ke Klender, tadinya berharap bisa dapat tambahan sedikit untuk perbaikan mobil ternyata tidak dapat sepeserpun. Mana kaki pegel dan bensin habis. Pegel hati pula.
Saya sempat foto plat no truk. So, kalo ada yang bisa bantu lacak siapa pemilik truk ini, mungkin saya akan adukan kelakuan si supir sialan ini ke yang punya truk. No nya N 8240 UG.

Ketika kejadiannya diurutkan, it’s all start to make sense:
- Waktu katanya udah sampe di rumah saudaranya, dia cuma berdiri di jalan dan ‘nelpon’ saudaranya. Rupanya dia cuma bersandiwara saja, kalau benar rumah saudaranya di sekitar situ pasti dia mampir. Masa udah berjam-jam menuju rumah saudaranya tapi cuma di depan jalan aja.
- Sepanjang jalan dia coba menunjukkan bahwa dia orang yang bisa dipercaya. Dia bercerita soal keluarganya, soal kesulitan hidup, juga dia sempat ngomong bahwa suatu saat kalau kebetulan mampir ke daerah Sudirman, dia akan mampir ke kost-an saya. Dia sempet mau minta alamat segala. It’s all just another lie. Buktinya sekarang ditelp hpnya mati. Tadi barusan aja ditelp sempat hidup, tapi di-reject lagi dan dimatikan lagi.
- Saya yakin sekarang bahwa seandainya saya tidak nunggu di depan pasar dan ikut dia ke dalam pasar, dia akan tetap cari jalan untuk kabur dari saya. Kemarin saya hanya mempermudah dia kabur aja dengan percaya dia dan menunggu di parkiran depan pasar.
Lesson Learned
- Never trust anybody you just met. Jangan mudah percaya orang, apalagi orang baru ketemu. Jangan juga curiga tapi harus tetap waspada.
- Kalau kejadian tertabrak, segera minta kartu identitas. Tahan. Kalau urusan sudah selesai, baru kita kembalikan.
- Kalau dia menawarkan ganti rugi yang nilainya jauh lebih kecil terima aja dulu. Kurangnya didiskusikan kemudian. Jangan kayak saya, udah mobil rusak, capek kaki dan hati, gak dapet sepeser pun lagi. Kumplit deh sialnya.
- Jangan berlaku bodoh seperti saya, terlalu polos jadinya dikerjain orang.