Lebaran di Kampung Orang

Dua minggu sebelum lebaran dapat kerjaan ke luar kota, ada kerjaan instalasi di dua tempat. Satu di Airmadidi, satunya lagi di Kotamobagu. Berhubung ini pekerjaan pertama saya, tentu saya terima tugas ini dengan semangat 45 :p. Tapi dalam hati tetap berharap mudah-mudahan kerjaan di 2 lokasi tersebut bisa selesai sebelum lebaran, kalau gak selesai kan berarti saya harus berlebaran di kampung orang.

Tapi tampaknya kekhawatiran saya akan menjadi kenyataan. Pekerjaan di Airmadidi selesai melebihi jadwal dan ketika kami mulai pekerjaan di Kotamobagu, tinggal beberapa hari saja sebelum lebaran tiba. Dan benar saja, sampai sehari sebelum lebaran, pekerjaan belum selesai. Diperkirakan baru selesai H+2.

Beruntung juga saya berlebaran di Kotamobagu dan bukannya di Airmadidi. Berbeda dengan Airmadidi yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani, mayoritas penduduk Kotamobagu adalah muslim. Hal ini karena dulunya di Kotamobagu ini berdiri kerajaan Islam Bolaang Mongondow. Sedikit berbeda dengan lebaran di Bandung, shalat Ied di sini dipusatkan di alun-alun kota, kesannya jadi lebih meriah. Meskipun di kota ini ada beberapa mesjid, tapi semua orang sholat Ied di alun-alun. Bahkan ada pula yang datang dari luar kota dengan menggunakan truk. Yang jadi masalah hanya satu, gak ada restoran yang buka :(

Sehabis Dhuhur, back to work, ngejar target pulang H+2. Sambil kerja kadang diselingi sebentar buat telp ke rumah, mau kasih kabar ke orang di rumah. Tapi susahnya minta ampun. Baru pencet 0 dan 2 saja sudah bunyi … tut tut tut … Sibuk bener line telpnya. Waktu itu, belum ada satu pun operator selular yang masang BTSnya di kota ini. Jadi telpon di wartel adalah satu-satunya cara untuk nelpon ke Bandung. Akhirnya setelah dicoba berkali-kali, berhasil juga telp ke Bandung, tapi itu pun sudah jam 9 malam.

Singkat kata, pekerjaan selesai H+2. H+2 sore, kami kembali ke Manado. Pulang ke Jakarta baru keesokan harinya. Sampai di Jakarta sudah menjelang sore. Sebelum pulang ke Bandung saya mampir dulu di rumah Paman. Maklum, waktu itu kan saya numpang di rumah Paman. Jadi gak enak kalo gak mampir sama sekali. Tapi yang rencananya hanya sebentar di rumah Paman tidak kesampaian. Karena Paman saya waktu itu gak ada di rumah, katanya lagi ke toserba untuk beli susu. Saya pikir, tunggu aja ah, paling cuma sebentar. Ternyata baru 3 jam kemudian Paman saya balik. Setelah bertemu dengan Paman saya, saya langsung menuju Kampung Rambutan untuk naik bus ke Bandung. Waktu itu sudah hampir jam 9 malam.

Tapi emang dasar kalo sedang diburu-buru, ada aja sesuatu yang jadi penghalang. Sewaktu sedang di tol Jagorawi, tiba-tiba bus yang saya tumpangi menepi. Mogok :( Waktu itu handphone belum sepopuler sekarang. Untuk cari bantuan, kenek bus numpang bus lain untuk kembali ke Kp Rambutan. Setelah menunggu lebih dari satu jam, bus pengganti datang. Perjalanan ke Bandung bisa diteruskan.

Ketika mau masuk daerah Cipanas, macet lagi di pasarnya. Duh emang bener-bener deh. Padahal kan sudah lebih dari jam 12 malem, kok masih ada macet segala. Setelah terbebas dari macet di Cipanas, akhirnya saya sampai juga di Bandung. Perjalanan Jkt-Bdg yang biasanya ditempuh hanya 3 jam, saya tempuh lebih dari 6 jam. But it’s ok. I’m home now. There’s no place like home.

Selamat Lebaran, kawan … itu cerita Lebaran di tahun 1998 … ketika saya baru pertama kali kerja. Walaupun kerja pas hari raya, saya tidak dapat sedikitpun kompensasi dalam bentuk apapun dari perusahaan saya. Duh teganya perusahaan saya dulu. Duh bodohnya diriku. I’m so naive. Kalau sekarang disuruh kerja pas hari Lebaran, ogah! Kecuali dapat kompensasi berupa E90, hehehehe ;).

One Response to “Lebaran di Kampung Orang”

  1. Q-World » Blog Archive » Law of Attraction Says:

    […] saya alami yaitu mengapa saya mengalami hal yang tidak diinginkan secara berurutan ketika saya berlebaran di kampung orang. Hal itu karena, menurut LoA, saya terus menerus memancarkan getaran negatif karena tidak bisa […]

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »